Menyepelekan Susu UHT

Mau sedikit curhat nih… Harusnya saya bete atau seneng ya kalau si kecil seneng mambagi-bagikan sesuatu? Tergolong pelit ga sih saya, kalau saya ternyata tidak suka si kecil membagi-bagikan susu UHT nya? Ada beberapa alasan kenapa saya tidak suka anak saya membagikan susunya. Di jayapura Susu UHT, khususnya yang anak saya konsumsi, sangat susah didapat. Jadi saya memperlakukannya sebagai barang yang istimewa. Susu UHT harus selalu tersedia untuk si kecil bagaimana pun caranya. Meski saya harus berburu dari satu toko ke toko lainnya. Memborong setiap susu yang ada meski harganya melambung. Bersusahpayah membawanya dengan motor bebek kami. Pokonya semua kami lakukan.

 

Nah, sepertinya tidak semua orang mengerti bahwa bagi kami, susu UHT adalah seperti halnya susu formula yang mereka berikan pada anak-anak mereka. Sepertinya mereka juga tidak akan mungkin membagi-bagikan susu formula itu pada anak orang lain. Apa karena, susu UHT dikemas seperti minuman-minuman ringan? Jadinya dianggap hanya sebagai minuman ringan juga.  Kalau hanya sesekali sih tidak apa si kecil mebagikannya. Tapi kalau setiap kali ke rumah? Ditambah lagi tidak hanya satu atau dua anak saja.. Yang datang ke rumah bisa sampa tujuh anak. Bisa dibayangkan? setiap hari!! Pernah suatu hari saya menemukan ceceran susu di depan rumah yang dibuang-buang.. Duuuuhh miris hati saya, geram rasanya…. tapi yaa, namanya juga anak-anak.. bukankah begitu???

Tips Cara Menyapih Tanpa Stress

Mau share lagi nih… Kali ini tentang cara saya menyapih Arya. Sudah Hampir delapan bulan yang lalu sih. Tapi saya yakin ini bisa berguna untuk yang berniat menyapih si kecil. Sebetulnya tidak ada trik khusus. Setidaknya saat saya menyapih Arya. Yang betul-betul harus saya hadapi sebagai penghalang justru dari diri saya sendiri. Karena sayalah yang tidak siap “melepas” Arya. Kenapa begitu? Karena ternyata menyusui itu tidak hanya membuat Arya tenang, tapi juga membuat saya tenang. Dengan meyusui Arya, saya pun merasa “memiliki” Arya karena dia “mengambil” sesuatu langsung dari diri saya. Sesuatu yang hanya saya yang bisa berikan. Sesuatu yang tidak akan mungkin digantikan oleh siapa atau apapun. Intinya mungkin saya suka ketergantungan Arya pada saya. Egois ya? :D

Tapi saya memang tidak boleh terlalu lama egois. Sebulan lagi adiknya akan lahir dan Arya sudah genap dua tahun. Sudah waktunya lulus S-3. Waktu yang sebulan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Akhirmya dengan berat hati saya meyakinkan diri dan berniat menyapih Arya. Mertua saya menyarankan untuk memisahkan tidur Arya. Jadi Arya tidak lagi tidur dengan saya. Waaahhhh it’s not a good idea just by listening to it… dengan halus saya tolak saran tersebut. Karena saya fikir nanti ketika Arya tidur lagi bareng saya, apa malah ga balik lagi ke nol?? Nah, gimana dong caranya? Sepertinya bakal susah nih.. Apalagi Arya selalu tidur setelah disusui.

Tips pertama.. Saya lakukan pendekatan dan perlahan memberikannya pengertian bahwa sebentar lagi Arya akan berulangtahun yang kedua dan tidak boleh ‘mia’ (menyusui) lagi. Sebenarnya saya lakukan ini jauh-jauh hari agar tertanam di benaknya bahwa saat dia berulangtahun yang kedua dia harus berhenti ‘mia’ Saya pun mengatakan padanya bahwa Arya akan mempunyai adik. Dan ‘mia’ nya harus dikasih ke adiknya. Saya katakan terus berulang-ulang. Dengan harapan Arya akan mengingatnya.

Tips kedua.. Saya persiapkan diri saya akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Mengamuk, misalnya. Atau bahkan mungkin bisa saja saya yang stress.

Tips ketiga.. Sebaiknya jangan langsung drastis diberhentikan. Tapi kurangi frekuensi menyusuinya. Biarkan dia sibuk dengan mainannya atau alihkan perhatiannya dengan bercerita atau bermain bersama.

Tips keempat.. Jangan menutupi atau membalur puting dengan apapun. Biasanya orangtua kita menyarankan untuk membalur puting payudara dengan obat merah atau yang lainnya. Saya pikir itu tidak natural. Bagaimana ketika dia melihat kita menyusui adiknya? Rasanya kok ga enak membohongi anak kita sendiri.

Tips kelima.. Lakukanlah! Mulailah memyapih si kecil. Jika dia mengamuk, peluk dia. Yakinkan dia bahwa kita akan selalu ada untuk dia. Alhamdulillah Arya ga sampai ngamuk. Hanya saja memerlukan waktu lama untuk membuatnya tidur. Dia akan sangat gelisah dan terbangun saat tidur malam. Tapi hal ini hanya berlangsung tiga hari saja. Setelahnya, Arya tidur dengan nyenyaknya.

Tips terakhir.. Konsisten.. Ini sangat penting. Jangan menyerah dengan rasa sayang kita pada si kecil. Karena kita bisa sangat tidak tega melihatnya menangis meminta ‘mia’. Jika kita menyerah, berarti kita menunda hak si kecil untuk mandiri. Jadi konsistenlah dengan apa yang kita lakukan.

Jangan terlalu berfikir tentang berapa lama proses menyapihnya. Be flexible! Beri waktu untuk si kecil dan yang terpenting untuk kita karena setiap anak pasti membutuhkan waktu yang berbeda. Enjoy the process! Nikmati saat-saat terakhir dia “menjadi bagian” dari diri kita. ;)

Semangat!!

Operasi Cesar yang Kedua

Mau share lagi nih setelah lama ga nulis.. :)

Tanggal 9 Agustus 2010, alhamdulillah kami dikaruniai putera kedua yang lahir secara sectio lagi. Alasan saya untuk sectio lagi karena setelah saya mengumpulkan artikel tentang VBAC (vaginal birth after caesar), ternyata ada kemungkinan VBAC akan memiliki resiko bagi si ibu atupun janin. Karena, jika “terjadi sesuatu” saat mencoba melahirkan normal /VBAC maka tentu saja akan diputuskan untuk kembali melahirkan secara sectio (unplanned sectio) dan resikonya sangat tinggi dibandingkan jika langsung memutuskan untuk sectio lagi. Ditambah lagi jarak putera pertama dan kedua hanya 25 bulan saja.

Alhamdulillah, putera kedua kami lahir secara sehat tanpa kurang satu apapun juga. Arka lahir dengan berat 3105 gr dan tinggi 49,5 cm. Anak kami lahir di Bandung karena tidak memungkinkan untuk melahirkan di Jayapura seperti anak pertama. Ternyata, keputusan kami untuk melahirkan di bandung “mengungkapkan” hal yang menurut kami sangat mencengangkan. Bulan keenam, saat pertama kali saya memeriksakan kandungan di bandung, DSOG nya keheranan karena bekas sayatan pada perut saya kok panjang, miring dan terlalu atas. Ditambah lagi, ada keloid disana. Wah, saya sempat kaget tapi dokternya bisa menenangkan saya. Meskipun sampai hari ini saya masih tidak mengerti/menerima bahwa operasi cesar pertama saya, yang dilakukan oleh seorang dokter yang paling “bagus” di Papua, ternyata tidak seperti yang saya harapkan. Nah, yang lebih mengagetkan lagi setelah anak kedua kami lahir, dokternya bilang kalau dokter di Jayapura yang melakukan cesar pertama telah menyobek otot perut saya. Waduh, apalagi ini?? Saya dan suami shock. Kami takut hal ini akan berdampak pada kesehatan saya tentu saja.

Kami tidak habis pikir kok dokter bisa ceroboh seperti itu? Padahal dokter tersebut adalah dokter yang dianggap paling baik di Papua. Tapi tidak ada kejadian tanpa hikmah dibaliknya. Ada beberapa hikmah ternyata dibalik keputusan kami untuk kembali melahirkan secara sectio. Dengan sectio yang kedua, kami bisa tahu bahwa ada kecerobohan yang dilakukan oleh dokter yang pertama yang mungkin tidak akan pernah kami ketahui jika kami memutuskan untuk melahirkan secara normal. Dan setelah kami bandingkan prosedur operasi pertama dengan yang kedua ternyata sangat berbeda. Pada operasi pertama, saya tidak melalui ruangan steril atau pra-ops. Sedangkan pada operasi yang kedua kami melalui beberapa ruangan steril sebelum operasi dilaksanakan. Dan pada operasi yang pertama, ruangan operasi tidak sempat dibersihkan atau disterilkan dulu karena seingat saya begitu pasien sebelum saya keluar, saya langsung dibawa ke ruang operasi. Waaah, jadi mual saya kalau ingat hari itu.

Seminggu yang lalu saya dapat kabar bahwa teman kuliah saya baru saja diangkat rahimnya karena terkena kanker rahim stadium lanjut. Hal ini dimungkinkan disebabkan oleh operasi cesar yang dia lakukan empat tahun lalu di sebuah rumah sakit daerah. Operasi ini dicurigai menjadi penyebabnya karena dilakukan dengan tidak steril. Jadi ada “sesuatu” yang tidak terbersihkan dan tertinggal saat operasi. Beberapa bulan setelah teman saya operasi cesar, dikatakan bahwa ada tumor yang tumbuh di rahimnya dan beberapa tahun kemudian tumbuh menjadi kanker. Waaah, saya semakin merinding mengingat operasi cesar pertama saya. Sekali lagi, alhamdulillah saya memutuskan untuk kembali melahirkan secara operasi jadi dapat segera diketahui jika memang “ada apa-apa”.

Oya, saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti atau mempengaruhi teman-teman yang berkeinginan untuk VBAC, tapi sebaiknya pelajari riwayat cesar sebelumnya dan berkonsultasi dengan DSOG yang bisa dipercaya sebelum memutuskan metode melahirkan yang akan dipakai.

Semoga berguna :)

Jika Anak Kita Batuk Pilek

Dua minggu yang lalu, Arya pilek dan batuk. Alhamdulillah tidak dibarengi panas. Kebetulan dua kaka sepupunya (sekarang kita lagi tinggal di rumah nenek) juga batuk dan pilek. Karena alhamdulillah sudah punya pengetahuan yang cukup tentang batuk dan pilek, ya saya tenang saja. Karena batuk pilek bukanlah penyakit jika berlangsung kurang dari delapan minggu. Batuk dan pilek hanyalah sebuah reaksi tubuh atas “makhluk asing” berupa virus yang ingin mengggangu kesehatan buah hati kita. Bahkan jika batuk pilek anak kita disertai panas, bukan batuk pileknya yang kita obati tapi panas nya itu. Itu pun kalau panasnya melebihi 38,5 derajat c.

Yang panik jusru kake nenenya.. hehe.. yang menyuruh kita untuk segera memberikan obat flu. Padahal, flu sendiri tidak ada obatnya lho.. Nah, buat apa kita memberikan sesuatu yang tidak dibutuhkan tubuh anak kita. Terlebih lagi itu adalah obat kimia. Yang suka sebelnya lagi.. Kalau kita bawa anak kita yang sedang flu/batuk pilek ke DSA, diagnosanya pasti aja radang… Waaahhh, kalau sudah didiagnosa radang, pasti deh dikasih antibiotik. Haduuuhh… Padahal kan antibiotik dikasih kalau penyakitnya diakibatkan oleh bakteri.. Sedikit info dan tips yaa.. Sebaiknya ketika DSA bilang anak kita kena radang, kita cek darah aja ke lab buat mastiin (pengalaman.. )

So, kalau anak kita batuk pilek jangan kuatir yaa.. Cukup beri minum yang banyak, makanan bergizi, dan istirahat yang cukup plus perhatian dari kita.. Insyaallah bisa sembuh tanpa obat.. amin

Berburu Susu UHT di Jayapura

Berburu susu UHT mungkin terdengar lucu dan luar biasa. Tapi bagi kami hal ini telah menjadi hal yang biasa karena di tempat kami tinggal sangat susah mendapatkan susu UHT. Meskipun kami sekarang tinggal di Ibukota Provinsi, tetap saja ada barang-barang dan keperluan yang memang terbatas. Barang ataupun keperluan yang lain memang masih bisa disubstitusi dengan barang yang lainnya. Tapi bagi kami untuk susu UHT tidak ada barang substitusi. Meskipun banyak sekali dipasarkan susu formula dengan iklan yang mencoba menggoda kita dengan berbagai cara. Ya, sepertinya tidak usah saya jelaskan mengapa kami “keukeuh” memberikan susu UHT sebagai susu tambahan kepada putra kami karena kami yakin semua tahu keunggulan dan manfaatnya.

Seringkali untuk mendapatkan susu UHT kami harus berkeliling kota dan menginspeksi semua toko dan supermarket. Seringkali juga kami harus kecewa karena susu yang dicari habis. Sedangkan putra kami menghabiskan rata-rata 1 karton (24 kotak 250ml) per minggu nya. Jadi kami harus mempunyai persediaan susu minimal 4 karton dalam 1 bulan. Untuk menyiasatinya kami sekarang tidak punya waktu khusus untuk berburu susu UHT. Jadi setiap kali kami pergi jalan-jalan pasti kami sediakan waktu untuk mencari susu UHT. Kami akan memborong semua persediaan yang ada di toko atau supermarket.

Sebagai informasi, anak kami mengkonsumsi susu UHT merk ULTRA yang diproduksi di Bandung. Dan hal ini tentu saja membuat harganya sedikit lebih mahal mengingat biaya pengiriman yang harus dikeluarkan oleh distributor. Harga susu di satu toko dengan yang lainnya pun berbeda-beda. Untuk kemasan 200ml harga per kotak berkisar antara 2800-3000 rupiah. Sedangkan untuk per kartonnya   (isi 24) harga berkisar antara 63000-72000 rupiah. Dan untuk kemasan 250ml, harga per kotaknya berkisar antara 3400-3900 rupiah dan berkisar antara 77000-90000 rupiah per kartonnya.

Tapi keadaan ini tidak membuat kami berkecil hati dan menyerah. Kami justru lebih semangat dengan keterbatasan yang ada. Semua demi buah hati kami yang alhamdulillah semakin pintar dan sehat…