Tiga minggu yang lalu aku pulang kampung, TTO. Ayah banyak cerita tentang kejadian diujung tanduk saat serangan jantung datang.
Suatu sore saat di rumah, ayahku merasa ada yang sakit dengan dadanya. Memang katanya udah beberapa kali kerasa sejak lama, tapi semuanya bisa normal kembali hanya dengan mengubah posisi badan. Namun kali ini, bolak-balik badan ga ada pengaruhnya. Semakin lama semakin sakit.
Saat itu ayahku sendirian, hanya ada 2 cucu yang masih balita. Sadar bahwa sedang diujung tanduk, ayah langsung keluarkan motor dan bergegas ke klinik terdekat (untungnya cuma 50 meteran), itupun pake motor sambil kepala nunduk menempel ke dashboard (Suzuki Smash) dan tangan kiri pegang dada. Ibu-ibu bilang ayahku saat itu ngebut, ga seperti biasanya.
Sampai di klinik, masih belum dapat dipastikan penyakit apa. Setelah itu dalam keadaan setengah sadar, ayah minta rujukan ke RSHS. Pulang pun tak kuat, akhirnya diantar oleh petugas klinik ke rumah. Di rumah rasanya dada semakin sakit. Langsung gedor tetangga minta anter ke RSHS yang kurang lebih 30 km jaraknya dari rumah.
Pak Agus, begitu beliau biasa dipanggil, nganter ayah dengan mobilnya ke RSHS. Ibu sedang dalam perjalanan menuju rumah. Karena darurat, tidak sempat tunggu ibu. Akhirnya ketemuan di suatu titik di jalan.
Waktu menuju pintu tol, ibuku tiba-tiba minta diarahkan ke RS Al-Islam di Sukarno-Hatta dengan alasan lebih dekat. Mobil pun lari ke RSAI. Feeling ibuku sungguh luar biasa, dokter bilang diperkirakan nyawa ayahku akan melayang jika terlambat 15 menit saja.
Setelah diagnosis, ternyata baru tau itu serangan jantung. Untuk sementara, ayah diberi obat pencair darah, dengan harapan yang menyumbat dapat meleleh. Karena parahnya, obat itu ngga ngaruh… Dokter kaget dan suster pada panik.
Besoknya, ayah dialihkan ke RSHS. Disana, hasil diagnosa menyatakan bahwa ada 4 penyumbatan pembuluh darah di jantung, yang pertama 90% tersumbat, kedua 80%, ketiga 60%, keempat 30%. Dokter kaget dengan hasil itu, “seharusnya” dan biasanya tingkat keparahan 25% walau satu saja biasanya orang sudah pingsan. Tapi ya itu, mungkin karena ayahku pada dasarnya betul-betul kuat dan sehat, masih bisa pake motor dalam keadaan setengah sadar. Subhanallah…!
Di RSHS ayah ditempatkan di ruangan yang dikenal sebagai “ruangan tanpa harapan”, entah apa namanya itu. Di ruangan itu ada 4 pasien termasuk ayahku. Kondisi mengharuskan ayahku dipasangi “balon” di tempat yang menyempit. Namun karena biayanya sangat mahal, jadinya cuma 2 titik terparah yang diutamakan dipasangi. Sebagai informasi, sampai dengan 2 balon itu dipasangi, merogoh kocek 130 juta rupiah. Allahu Akbar… betapa mahal kesehatan itu…
Dokter menyarankan bulan selanjutnya pasang balon ketiga di titik yang berat lainnya. Jika 3 titik sudah dipasang, insya Allah ayah dapat bekerja seperti biasanya. Kondisi sekarang masih 2 titik, ayah masih merasa capek dan sesak jika sedikit saja kecapean. Bayangkan, ketika shalat, bangun dari sujud saja sudah terasa agak sesak.
Insya Allah tahun depan lah pasang satu lagi, biar ayahku bisa melakukan banyak hal dan terus menemani ibuku. Maklum, aku hanya 2 bersodara. Aku gak bisa ngurus karena aku tugas jauh sekali, Indonesia paling timur. Kakakku juga September ini sudah harus ikut suaminya ke Jepang. Duh…. Ya Allah….. kasihan mereka. Aku tidak bisa berbuat apa2.
Singkat cerita, setelah ayahku bisa pulang ke rumah, kabarnya ketiga orang tadi meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. segala yang dari Allah kembali kepada Allah….
Pesan bagi yang hobi makan gorengan pisan, comro, misro, bala-bala, bakwan, de-el-el segudang makanan gorengan lainnya, lebih baik stop dari sekarang. Kalaupun mau, ambillah 1 bulan cuma 1 buah saja.
Bisa dibayangkan, gorengan di pinggir jalan itu digoreng dengan minyak yang digunakan untuk menggoreng ratusan makanan, bahkan mungkin dari 2-3 hari yang lalu. Makanya pasti bisa dilihat, betapa hitam minyaknya. Hiiii…!!!! Kalau di rumah, ngegoreng 2 atau 3 kali saja udah bisa bikin minyak item. Kebayang gak tuh..?
Selain itu juga, udah bukan rahasia lagi minyak itu dicampur plastik. Sering kita melihat minyak goreng curah dimasukkan dengan plastiknya ke wajan/katel, plastik akan larut dalam minyak yang panas. Itu bisa membuat gorengan lebih renyah dan crispy, juga bisa bikin awet (bisa dibesokkan). Bahkan yang lebih parah, mereka membenamkan sedotan dan botol plastik minyak…!! Ckckckck….
Ini memang perbuatan orang-orang yang bodoh dan berpengetahuan rendah. Memang harus diakui bahwa penjual gorengan adalah kaum marjinal yang pendidikannya pun amat rendah. Sehingga, seringkali mereka tidak sadar apa yang dianggapnya menguntungkan itu dapat mencelakai orang bahkan menyebabkan kematian. Sungguh ironis.
Barangkali ini semua menjadi pelajaran bagi yang muda dan belum harus sampai mengalami operasi jantung, bahwa kesehatan itu tidak ternilai, terlalu mahal untuk dihargakan. Pilih-pilih makanan itu harus. Kalaupun mau makan yang digoreng, pakailah minyak jagung. Kalau kemahalan, pakailah minyak Bimoli, Sania, Tropical, atau minyak serupa yang tidak mengandung kolesterol. Syaratnya, harus sekali goreng! Tidak boleh ada istilah 2 kali. Pilih mahalan dikit atau nabung penyakit?
Mari kita coba hidup sehat!!!