Apa Sih Diare?

Diare adalah kondisi di mana frekuensi BAB meningkat dari biasanya, disertai dengan feses yang lebih cair. Ada tiga hal yang menyebabkan si kecil mengalami diare, yaitu faktor makanan, perjalanan yang melelahkan, dan akibat adanya infeksi saluran cerna.

Infeksi saluran cerna, umumnya disebabkan kuman pembawa penyakit, seperti bakteriEscherichia coli pada air yang kurang bersih. Bakteri ini masuk melalui makanan ke saluran pencernaan, dan berkembang biak dalam usus – terutama usus besar (kolon). Jika jumlahnya berlebihan, bakteri ini dapat menimbulkan sakit perut serta diare atau mencret.
Lanjutkan membaca

Kiat Mengatasi Anak Susah Makan

Arya sekarang lagi susah makan. Sepertinya sih gara-gara masalah psikis dan sedikit masalah fisik. Arya sepertinya hilang nafsu makan karena kelamaan berlibur di Bandung. Jadwal harian termasuk jadwal makan dan menunya jadi berantakan. Ditambah lagi Arya dirawat sampai dua kali selama berlibur di Bandung. Mesti mulai dari awal lagi nih bikin Arya nafsu makan lagi.. Nah, pas lagi cari-cari tips and tricks supaya Arya mau makan lagi, eeehh ada ulasan bagus dari blog tetangga. Semoga berguna yaa..

Masalah makan si kecil memang membuat kita jadi serba salah. Bahkan, tak jarang jadi sering kehabisan akal. “Saya langsung over reactive waktu Siska susah makan. Saya takut dia kekurangan gizi,” ujar seorang ibu tentang anaknya, Siska. Akibatnya, Siska langsung “dijejali” dengan seabrek makanan. Apa yang terjadi? Siska malah semakin mengunci rapat-rapat mulutnya!

Fisik atau psikis?
Lanjutkan membaca

Istri Sebagai Manajer Rumah Tangga

Manajer apakah yang jam kerjanya 24 jam sehari dan bekerja tanpa gaji? Mmhh, ada tidak ya? Sepertinya tidak mungkin ada orang yang mau bekerja 24 jam per hari tanpa digaji. Tetapi ternyata ada juga lho! Contohnya saya :D

Sebutan “istri” mungkin terdengar biasa saja. Tapi kalau kita ganti istilah “istri” menjadi Manajer Rumah Tangga pasti akan terdengar sangat berbeda. Dan akan terkesan sangat “keren”. Menurut saya sebutan itu sangatlah cocok bagi seorang istri dan juga ibu. Mengapa begitu? Seorang manajer jika dilihat dari asal katanya sendiri yaitu manage bertugas untuk mengatur sesuatu hal agar berjalan dengan semestinya. Baik itu sebagai motivator, organisator, bahkan eksekutor. Saya tidak menyertakan istri sebagai seorang konseptor karena menurut saya pribadi, yang berperan besar menjadi seorang konseptor adalah suami atau ayah. Hal ini tentu saja berlaku di dalam sebuah keluarga yang utuh.

Seorang istri menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Dimulai di pagi hari, di saat matahari belum terbit, aktivitas seorang istri dimulai. Atau justru dimulai pada saat malam hari, di saat dia membuat rancangan untuk aktifitas esok harinya. Seperti memikirkan menu masakan, bekal suami dan anaknya, perlengkapan yang harus dibawa suami dan anaknya, jadwal kegiatan anak-anaknya dan rencana-rencana lainnya. Seorang istri pun bertugas ganda. Tidak hanya sebagai istri yang berkewajiban melayani suami tetapi juga berperan sebagai ibu yang memberikan kasih sayang juga pendidikan intelektual, mental , emosional dan spiritual bagi anak-anaknya. Saya yakin anak yang hebat pasti mempunyai seorang ibu yang super hebat.

Menurut saya, seperti halnya manajer-manajer di perusahaan, seorang manajer rumah tangga juga membutuhkan pendidikan dan latihan agar mampu menjadi seorang manajer yang baik dan tidak hanya mengandalkan insting kewanitaan atau keibuannya saja. Setuju dong?! Nah, sepanjang pengetahuan saya sepertinya belum ada kursus atau pelatihan manajemen rumah tangga. Atau mungkin ada dan saya yang tidak tahu ya? Kalau ada saya pasti ikut dan suami pun saya yakin akan mendukungnya. Nah, salah satu jalan untuk menyiasati tidak adanya kursus manajemen rumah tangga tersebut, menurut saya kita dapat mengikuti kursus manajemen umum yang dapat diaplikasikan ke dalam keseharian kita sebagai manajer rumah tangga. Tapi sebelumnya yang menurut saya penting adalah kursus pengembangan kepribadian ataupun pelatihan ESQ yang dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan kita dari dalam. Karena menurut saya, untuk membentuk dan mendidik pribadi yang super (terpengaruh om mario teguh :p) kita harus menjadikan diri kita super terlebih dahulu. Karena rasanya aneh dan sia-sia jika kita mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan siapa kita. Apa kita nanti akan kesulitan menjawab kala anak kita bertanya “ lho, bunda ajarin kaka begini ko bunda malah begitu?”.

Nah, untuk para manajer rumah tangga yang alhamdulillah tinggal di kota besar mungkin mencari kursus atau pelatihan yang saya sebutkan di atas tidaklah sulit. Tapi bagi saya, yang walaupun tinggal di ibukota propinsi tetapi tetap saja sangat sulit bagi saya mendapatkan pelatihan atau kursus yang saya butuhkan. Maklum, saya tinggal di pulau paling ujung ;) . Nah, untuk menyiasatinya saya berniat mencari dan “melahap” buku-buku manajemen umum yang dapat diplikasikan dalam keseharian saya sebagai manajer rumah tangga. Dan jika suatu saat ada pelatihan atau kursus pengembangan diri atau ESQ di kota saya, saya insyaallah akan mengikutinya (dengan seijin suami tercinta tentunya :*) Kenapa tidak toh?

Mendisiplinkan Si Kecil

DSC00584

Disiplin sangatlah penting. Mengapa begitu? Alasan utamanya pasti untuk kebaikan si kecil, terutama bagi kehidupannya kelak. Sejak kecil, mereka harus diajari batasan-batasan tentang hal-hal yang boleh atau yang tidak boleh. Seperti halnya kita sebagai orang dewasa, kita tentu akan lebih merasa nyaman jika kita mengetahui hal-hal yang diperbolehkan dan juga yang tidak diperbolehkan. Kita tentu tidak akan merasa nyaman berada di lingkungan dimana kita tidak tahu batasan-batasan mana yang boleh dan juga tidak boleh.

Disiplin mengajarkan anak kita cara berperilaku di rumah juga cara yang pantas untuk bergaul di masyarakat agar bisa diterima. Jika orangtua sampai gagal mengajarkan disiplin pada anak, maka anak akan cenderung sedikit bersikap anarkis atau tidak diterima diantara teman-temannya. Kasian kan? Jadi kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin? Sejak si kecil lahir! Mengapa? Karena kunci awal disiplin, terlebih bagi saya, adalah KONSISTENSI. Konsistensi yang dimulai di hari kelahiran si kecil.

Si kecil adalah “mesin” pembelajar yang hebat. Sejak dia lahir, dia dapat mengenali pola atau kebiasaan-kebiasaan di sekitarnya. Sebagai contoh, dia akan tahu jika dia lapar lalu menangis, bunda pasti akan segera memberinya ASI. Atau ketika dia tersenyum, dia akan tahu bahwa bunda akan menciumnya atau membalas senyumannya. Nah, pola-pola seperti inilah yang harus dikembangkan. Terasa dan terbukti oleh saya sendiri lho! Cara yang gampang adalah membuat jadwal kegiatan si kecil dan cobalah untuk menepati jadwal tersebut. Dengan begitu, si kecil akan belajar urutan kegiatan juga membiasakan dirinya terhadap rutinitas yang mengarah pada pembelajaran konsistensi. Dan tentu saja pada akhirnya akan membuatnya memahami disiplin dengan cara yang positif karena dipelajari “sambil jalan”.

Disiplin tidak melulu berarti hukuman. Terlebih jika hukuman itu adalah hukuman fisik. Saya pribadi tidak setuju dengan hukuman fisik. Apalagi ada anggapan bahwa memukul anak laki-laki adalah sebuah kewajaran. Subhanallah! Sebetulnya, mereka hanya harus diberitahu siapa yang memegang kekuasaan. Jangan biarkan mereka menguasai kita sebagai orangtua, meskipun kita terkadang tidak tega menolak permintaan anak kita terutama jika dia menangis. Terkadang kita memang harus tega menolak permntaan mereka atau melarang perbuatan mereka yang memang tidak bisa diterima.

Satu hal penting lagi. Ini saya pelajari dari ibu mertua saya. Beliau berpesan agar kita harus SEIYA SEKATA SEBAGAI ORANGTUA. Jangan buat anak kita kebingungan dengan kebijakan ayah dan bunda yang berbeda. Karena jika kita sebagai orangtua tidak sepaham, maka pelajaran konsistensi akan percuma. Sebagai contoh, jika bunda melarang si kecil untuk tidak membawa makanan ke kasur, maka ayah pun harus demikian. Kalaupun kita pada suatu ketika dihadapkan pada situasi yang mengharuskann untuk berbeda pendapat dengan si ayah atau bunda, sebaiknya salah satu harus mengalah demi kebaikan si kecil agar tidak bingung. Barulah, di belakang si kecil kita bisa mendiskusikannya.

Sikap seiya sekata orangtua juga membuat si kecil belajar menghormati kedua orangtuanya. Tidak jarang kita melihat anak yang “kurang ajar” pada bundanya dengan memukul atau menendangnya lalu setelah itu belari memeluk ayahnya. Hal tersebut bisa jadi karena si ayah cenderung sering mengiyakan keinginan si kecil daripada bunda, atau sebaliknya.

Tidak ada guru yang lebih hebat daripada bunda dan ayah, dan tidak ada sekolah  yang lebih baik daripada rumah. Karena itu, ajari si kecil dengan ilmu-ilmu yang berharga yang kelak akan membuatnya menjadi pribadi yang super :)

Anak Laki-laki yang Kuat secara Emosional

DSC00660 Bagaimana cara kita membantu anak laki-laki kita dalam memahami perasaan mereka tanpa mereka takut untuk mengungkapkannya? Bagaimana cara kita membantu mereka untuk menjadi sosok maskulin namun tetap mempunyai kematangan emosi? Bagaimana pula cara kia membantu mereka dalam menjalani proses pembelajaran menjadi seorang laki-laki yang kuat? Ternyata buku yang berjudul Raising Cain karangan Micheal Tompson, Ph. D dan Dan Kindlon Ph. D dapat memberikan panduan atau tips-tips dalam memupuk juga melindungi emosi anak laki-laki, menghargai dan mengerti minat juga keinginan mereka, serta membantu mereka tumbuh menjadi sosok penyayang, pintar dan juga sukses.

Strategi atau tips di bawah ini dapat anda jadikan referensi yang insyaallah berguna.

Beri mereka ruang untuk kehidupan pribadi. Kita sebagai orangtua dituntut untuk memberikan kesempatan pada mereka dalam mengeksplorasi segala bentuk emosi dan memahami bentuk emosi tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mereka lebih mengerti diri mereka sendiri dan dapat mengkomunikasikan emosinya secara lebih efektif dengan orang lain. Seringlah berbicara hati ke hati dengan anak anda. Sering tanyakan apa yang dia rasakan dan jangan segan pula untuk menyampaikan apa yang anda sendiri rasakan. Biarkan anak kita mengenali berbagai bentuk emosi tersebut. Lambat laun hal ini akan menumbuhkan kesadaran mengenai dirinya terutama kehidupan pribadinya (inner life).

Mengenali dan mengerti aktifitas mereka yang tinggi. Anak laki-laki memang dilahirkan dengan energi lebih sehingga mereka perlu diberikan ruang yang besar dan aman juga kesempatan untuk mengekspresikannya. Anak laki-laki juga sangat sensitif terhadap para orangtua ataupun orang dewasa yang tidak menerima “keaktifan” mereka. Mereka akan cenderung menganggap penolakan itu sebagai sebuah tantangan. Semakin mereka dilarang, semakin mereka akan menjengkelkan kita. Maka sebaiknya ciptakan kondisi dimana mereka bisa berekspresi secara aman. Mereka harus diajari untuk mengeluarkan energi yang besar itu tanpa menyakiti orang lain atau diri mereka sendiri. Atau jelasnya, jangan terlalu mengekang mereka.

Gunakan bahasa mereka. Ketika berkomunikasi dengan mereka, gunakan bahasa anak laki-laki. Maksudnya, gunakan kata-kata atau kalimat yang menghormati harga diri dan kelelakian mereka. Gunakan kalimat yang jelas. Jadikan mereka konsultan atau pemecah masalah. Kenapa begitu? Karena seringkali anak laki-laki dididik untuk “jantan” dengan menghindari perasaan yang berlebihan atau hal yang akan membuat mereka rapuh. Hal ini tentu saja salah. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan mereka, kita diharuskan untuk menghormati keinginan mereka untuk dihargai sebagai seorang laki-laki.

Anak laki-laki memang dilahirkan dengan penampakan fisik yang kuat juga energi yang sangat besar. Namun, anak laki-laki juga merupakan makhluk yang sensitif dan lebih rapuh. Oleh karena itu, jangan abaikan sisi “lemah” tersebut. Ajari mereka untuk menerima “kelemahan” mereka dan mengoptimalkan kelebihan yang mereka punya.

Semoga berguna :)