Papua adalah tanah seribu misteri. Tanah yang dapat membuat kita menghembuskan nafas lebih dalam. Penuh dengan pesona, penuh dengan warna. Kala mentari mulai bersinar, saudara kita di belahan sana tengah terlelap. Nuansa Papua akan membawa kita pada alam sadar yang menghenyakkan dada. Suka dan duka bercampur baur menjadi satu dalam satu atap Ilahi. Bahwasannya kita adalah manusia. Tuhan hanya menilai dari amal perbuatan kita di dunia. Tidak peduli dia kaya atau miskin, tinggi rendah, hitam putih, kuning coklat, semua sama di hadapan Tuhan. Barangkali inilah tujuan manusia diciptakan dalam berbagai warna.

Ya, itulah suasana emosi saat kita memasuki tanah Papua. Setiap orang yang belum pernah melancong ke Papua pasti berat untuk berangkat kesana. Yang diketahuinya tidak ada yang lain selain koteka, hitam, dan keriting. Sungguh salah!

Saat burung besi melayang-layang di atas tanah gejolak ini, tampak fenomena yang berbeda tatkala hutan belantara tak terjamah masih menjadi tempat hukum rimba bernaung. Tiada yang tau apa yang ada di dalam perutnya. Adakah kehidupan sosial disana? Adakah kebutuhan yang lebih dari sekedar sandang pangan papan disana? Adakah tangan-tangan yang menyentuh tombol-tombol jendela dunia?

Turun dari pesawat, kita akan segera melihat orang-orang dengan kulit gelap. Disebut hitam tidak juga, karena ada yang berkulit coklat lembut. Beberapa dari mereka mulutnya terlihat merah. Ya! Mereka mengunyah pinang (Sunda: seureuh). Tua, muda, gadis, perjaka, semua ngunyah pinang. Dipercaya bahwa pinang dapat membersihkan ekosistem mulut dan memperkuat gigi.

Tidak seperti yang dibayangkan, Papua tidaklah “sehutan” yang disebut orang-orang yang mengaku orang “Barat”. Hanya saja, memang mereka memerlukan uluran tangan dari saudara-saudara kita se-bangsa se-tanah air. Mereka hanya terpisahkan oleh rentang sentuhan peradaban yang terlalu jauh dari ibukota. Mereka perlu diberdayakan dan dididik.

Ternyata, ada juga hotel kelas internasional Swiss-Bellhotel, restoran siap saji KFC dan MacDonald, toko sepatu Bata, pasar swalayan Gelael, sampai dengan Indovision. Bahkan, di Wamena pun ada becak! Tapi alamaak… kalau mulai sore, becaknya melawan arah angin. Berangkat Rp10.000, pulang Rp20.000! Aneh toh? Ya… begitu sudahh….

Ingat film Denias? Itulah kira-kira gambaran masyarakat Papua di pedalaman (ex: Wamena dan Timika). Tapi jangan berharap mencari orang yang berkoteka di Jayapura, Sorong, Biak dan Manokwari, karena kota-kota itu sudah ramai dikerubunin pendatang. Penduduk bisa berasimilasi dengan pendatang (ngga terbalik tuh?). Masyarakat asli sudah banyak berubah di kota-kota itu. Kalau Anda datang ke Wamena, disitulah gudangnya koteker’s. Sampai di Bandara Wamena Anda akan melihat orang berkoteka mendekati Anda. Tidak usah takut! Mereka ingin difoto bersama. Eitss… mereka profesional lho… Mereka biasanya pakai baju seperti biasa, tapi demi mencari uang (wisata koteka) mereka rela kembali membuka baju dan berkoteka ria. Kasih aja 10-20ribu, mereka sudah senang.

Dan apabila kehabisan uang, gak perlu kuatir! Dari Jayapura (ibukota) sampai dengan Wamena (pedalaman), tetap ada BRI dan Mandiri yang ber-ATM. :-)

Apabila Anda berminat membeli souvenir dan kerajinan tangan khas Papua, silakan hubungi. Ada patung orang Asmat dan Dani, patung abstrak, lukisan kulit kayu, panah, koteka, miniatur hunai, mahkota kebesaran, dan lain-lain. Sementara ini saya sedang menyiapkan katalognya. Asli dari Papua, made in Papua, by Papuan. **

Tulis sebuah Komentar

*
*