Seminggu yang lalu aku ke Jakarta, ada diklat ceritanya. Betapa bersyukurnya aku mendengar adanya tugas berangkat ke tanah Jawa. Bagaimanapun, disanalah hidungku menghirup nafas kehidupan sejak kecil, disanalah tanah yang menjadi saripatiku. Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, lega rasanya menginjak tanah subur yang pernah menjadi tujuan para penjajah di dunia ini. Diklat berlangsung 3 hari dan sorenya aku langsung pulang ke Bandung untuk TTO (tengok-tengok ortu) sekalian mau nengok rumahku yang masih seumur bayi. Lumayan lah di Bandung bisa keliling-keliling beli baju untuk calon si kecil. Mungkin bagi para pembaca yang mencari baju untuk si kecil, bisa dicari di La’Vie yang terletak di Jalan Imam Bonjol (belakang PAAP Unpad dan belakang RS Borromeus).
Rasanya ngga enak juga ninggalin istri sendirian nun jauh disana. Ya gimana lagi, dia kan kerja juga disana. Lagian, kerjaannya saat itu lagi padat banget, harus dinas-dinas luar kota, padahal dia lagi hamil. Gapapa lah, berdoa aja, yang penting berusaha bertindak selamat lah.
Meski dulu yang disebut rumah itu adalah rumah dimana orang tua berada, sekarang yang namanya rumah itu adalah istriku dan rumahku nun-jaun disana (sementara saat ini). Ya gimanapun, hidupku disana, barang-barangku disana, hiburanku, fasilitasku, kenyamananku, sudut-sudut rumahku, hingga debu-debu rumah pun telah menyatu dalam jiwaku. Seolah “pulang kampung” menjadi “bertamu” dan “kunjungan”. Rumahku adalah rumah yang aku tinggali bersama istri. Lengkap dengan segala suka dan dukanya.
Itulah namanya manusia. Setiap diri manusia, entah itu anak, ibu, ayah, saudara, adik, kakak, merupakan entitas pribadi sebagai mahluk Tuhan yang bernama manusia. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang bertanggung jawab secara individu dalam kiprahnya di dunia. Kalau kita merenung lebih jauh lagi, putaran kehidupan ini dimulai dari sepi sendiri (di dalam kandungan ibunda), diri sendiri (melajang), berkeluarga, kembali sendiri (ditinggal anak & suami/istri kita), lalu mati dalam keadaan kesepian (sendirian di kuburan).
2 Komentar
Saya mau cari resep baso malang buat bazar Khairunnisa(kelompok pengajian di Kuwait),nyasar kesini krn tertarik dg judulnya yang memang aku cinta banget sama kampung halaman.Meski kemana2 saya selalu ingat dan selalu ingin pulang kalo musim libur sekolah tiba.Memang rumahku istanaku yang kita sedang kita tempati bersama suami,istri,anak2 yang selalu bersama kita tapi ternyata kampung halaman juga menjadi istana di hatikuApalagi kalo denger lagu Tanah Air-ku tidak kulupakan . . . . . sedih banget. Boleh kan comment nya kayak gini????
hmmmm…..
Tulis sebuah Komentar