Sekarang, jamannya demokrasi. Semua dinilai dengan suara terbanyak. Bahkan, urusan benar-salah pun menjadi agenda voting. Lalu, apakah benar mengatakan bahwa kebenaran itu didasarkan pada suara terbanyak? Belum tentu.

Saya sering kecewa dengan kenyataan di dalam agama saya ternyata banyak hal-hal yang berbau negatif namun ditutup-tutupi. Bahkan, “kebenaran” tertulis itu dianggap sebagai suatu yang sahih. Padahal dari muatannya, itu sangat buruk dan negatif. Yang lebih kecewa lagi, seorang imam shalat di mesjid kantor saya menyadari bahwa kesalahan-kesalahan serta keburukan-keburukan teks-teks sah (sahih) dalam agama kita itu memang ada tertulis, tapi kita tidak usah membukanya. Katanya, jika kita membukanya malah nanti umat bingung mau ikut siapa lagi?

Wah… Kalau para “pemimpin” agama terus-menerum menutup-nutupi kekurangan ini pasti akan selama-lamanya tersesat. Bahkan ini sangat disayangkan bagi orang-orang yang memiliki iman tinggi malah mengimani yang salah. Apakah kita merasa kasihan kepadanya jika kita mengecewakan dia/menggetarkan iman dia? Ataukah kita memang membiarkan dia tidak mengetahui apa yang harus diketahuinya?

“Sudahlah, tidak usahlah kejelekan2 umat terdahulu (para sahabat Rasul) kita ungkap ke khalayak karena mereka itu adalah tauladan kita semua. Jika keburukan itu diungkap, lalu kepada siapa lagi kita meneladani?”

Itulah kata-katanya terdengar jelas. Saya kecewa sekali. Yang perlu kita tauladani itu adalah Rasul, bukan sahabat. Tidak semua sahabat itu baik. Istilah “musuh dalam selimut” itu memang ada juga di jaman Rasulullah.

Orang-orang Muslim sering mengklaim bahwa orang Kristen telah menyimpang dari agama aslinya, kitabnya telah diubah, dan orang Kristen tidak menyadari semua itu. Lalu apakah kita pernah berpikir demikian terhadap agama kita sendiri? Pernahkah kita bercermin? Apakah kita berani berkata demikian? Maukah kita menggali semua “kebenaran turunan” itu? Ataukah kita hanya mengklaim kebenaran turun-temurun dari keluarga, mayoritas lingkungan RT/RW, kelurahan, dan mayoritas kecamatan hingga kota tempat kita lahir?

Tampaknya agama seolah tried by the press. Kebenaran dibentuk atas dasar suara mayoritas. Jika terdapat perbedaan, langsung disalahkan. Coba kita liat kekakuan warga Muslim negeri kita. Ada mesjid Ahmadiyyah dibakar, ada tempat pengajian Syiah dihancurkan, lalu ada kekerasan atas nama agama. Sungguh ini memilukan.

Kebenaran emosional dan selera pribadi. “Inilah kebenaran yang aku pegang, dan aku merasa benar…. yang lain telah melanggar hukum Tuhan… mari kita hukum mereka karena Tuhan memperbolehkan kita menghukum mereka di dalam kitab suci. Kitalah pembasmi kerusakan di bumi ini, kitalah yang paling suci. Aku selalu tahajud shalat malam. Aku tidak pernah meninggalkan shalat. Aku pasti masuk surga sebagaimana yang dijanjikan Tuhan. Lihatlah baju kokoku. Lihatlah kopiahku. Lihatlah kening hitamku…. Lihatlah celanaku yang tidak menyentuh tanah.”

HATI-HATI…. Penyakit hati itu memiliki karakteristik tertentu. Penyakit orang pintar dan berilmu adalah kesombongan. Penyakit kaya harta adalah kekikiran. Penyakit orang ahli ibadah adalah merasa suci. Hati-hati jika dihinggapi penyakit2 itu! Beberapa diantaranya sangat menular, terutama yang terakhir disebut.

Menurut keterangan, shalat, puasa, zakat, berhaji bukanlah persembahan untuk Allah. Itu untuk diri kita sendiri. Allah berfirman dalam suatu hadits qudsi, “Berkhidmatlah kepada hamba-hambaku.” Itulah persembahan untuk Allah.

Ya! Ibadah itu urusan pribadi. Tidak perlulah mengingatkan secara lisan karena bisa cenderung merasa suci. “Aku ini shalat loh… koq kamu ngga? Ayo shalat yo..”

Kalau umat Islam sendiri (terutama aliran keras yang sok suci) yang mewajahkan Islam seperti itu, ya wajarlah non-Muslim akan berpikiran negatif tentang Islam. ITU KESALAHAN MUSLIM SENDIRI. Buktikan dengan akhlak!

Islam tidak begitu. Islam bukanlah kekuasaan. Sistem Islam menekankan pada pengelolaan negara, tidak seperti kerajaan Saudi yang monarki penjaga kekuasaan. Kalau Islam terus mewajahkan diri dengan cara-cara keras dan kaku seperti itu, tidak lain Islam adalah agama paling bahaya di dunia.

Mari dahulukan akhlak (moral/etika/sopan santun/budi luhur) daripada mengedepankan kesalahan-kesalahan fikih (aturan-aturan formal). Niscaya sinar Islam akan memancar seperti pada jaman Rasul yang puncaknya pada jaman Islamic Golden Age.

Satu komentar

  1. ALLAHU AKBAR!!! Ini yang susah untuk disadarkan kepada setiap orang, kecuali yang bener2 obyektif..

Tulis sebuah Komentar

*
*