Obrolan Malam Minggu Tentang Poligami

Malam minggu kemaren saya dan suami secara ga sadar ngomongin topik poligami. Mungkin bukan topik yang luar biasa juga sih.. Tapi dari obrolan kami itu, saya bisa dapetin beberapa hal yang bisa jadi bahan pemikiran buat orang-orang pelaku poligami atau yang akan poligami atau bahkan yang menentang poligami.

Mungkin harus saya sampaikan dulu kalau saya bukan orang atau perempuan yang menentang poligami. Karena bagi saya, Rasul dan para Imam Allah tidak akan melakukan atau mencontohkan sesuatu hal yang TIDAK BENAR. Pasti poligami itu ada karena baik adanya. Tapi tentu saja, jika memang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasul dan para Imam kita. Dan tentu saja saya tidak PRO dengan poligami yang dilakukan atas dasar nafsu atau sekedar mengikuti sunnah Rasul.

Tidak mudah memang untuk mengupas secara mendalam tentang poligami. Tapi ternyata secara ga sadar obrolan santai malam minggu kami ko jadi “dalem” banget ngebahas topik ini. Saya bahkan lupa awal obrolan kita ko bisa jadi bahas topik ini. Yang pasti kita berdua jadi terlibat dalam obrolan yang seru dan ternyata kami berdua sepaham mengenai poligami ini… Alhamdulillah😉

Hal yang menurut kami kurang diperhatikan oleh para pelaku poligami adalah KAPAN poligami itu dilakukan dan ALASAN dilakukannya poligami. Mereka sepertinya hanya menuruti Sunnah Rasul itu secara tekstual dan lupa pada hal kontekstual poligami itu sendiri. Dan mencoba memahaminya secara setengah-setengah saja.

Menurut obrolan santai kami (tentu saja berdasarkan fakta alias ga asal ngomong…), KAPAN poligami itu dapat dilakukan, yaa setelah istri pertama meninggal. Kok begitu? Karena yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para Imam pun ya demikian adanya. Para istri pertama Mereka tidak ada satupun yang dipoligami. Rasulullah saw dan para Imam melakukan poligami setelah istri pertama Mereka meninggal. Sebagai contoh, Rasulullah berpoligami setelah Siti Khadijah meninggal. Begitu pula dengan Imam Ali bin Abi Thalib yang melakukan poligami setelah Fatimah Az-zahra meninggal. Dan contoh-contoh lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu-satu. Mungkin salah satu alasan mengapa demikian adalah karena Islam menjunjung tinggi peran perempuan. Apalagi perempuan tersebut adalah istri yang mendampingi mereka dari “nol”. Istri yang mendampingi dari awal perjuangan. Mereka mempunyai sumbangsih yang sangat besar dan tidak terukur atas keberhasilan suami mereka juga berdirinya institusi keluarga yang utuh dan kokoh. Subhanallah… Jika sebuah keluarga diibaratkan sebuah perusahaan dan suami istri adalah pemegang sahamnya, maka pemegang saham yang satu tidak bisa berlaku seenaknya terhadap pemegang saham yang lain karena perusahaan tidak akan berjalan lancar.

Kita juga harus bijak menyikapi ALASAN dilakukannya poligami. Kita tentu harus melihat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw juga para Imam. Alasan Mereka melakukan poligami boleh jadi sangat beragam. Tapi alasan Mereka tentu saja BAIK karena kelak akan menjadi tuntunan bagi umat. Alasan mereka berpoligami, selain merupakan suruhan dari Allah swt juga dilakukan untuk menopang perjuangan Mereka dalam MEMBESARKAN NAMA ISLAM. Saya sangat kecewa dengan para ulama yang berpoligami dengan konsep yang salah sehingga nama islam sedikit tercoreng…

Tapi yaaa… ini hanya obrolan santai antara kami berdua. Alhamdulilllah kami sepaham. Saya ga keberatan suami saya poligami, tapi tentu saja setelah saya mati😉

One response to “Obrolan Malam Minggu Tentang Poligami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s